Selasa, 25 Desember 2007

AIR MATA ORANG-ORANG SHALIH

AIR MATA ORANG-ORANG SHALIH

Dari Sufyan ats-Tsauri RAH bahwa ia berkata, "Aku menemui Ja'far ash-Shadiq
RAH lalu aku katakan kepadanya, 'Wahai putra Rasulullah, berwasiatlah
kepadaku!' Beliau berkata, 'Wahai Sufyan, orang yang banyak dusta tidak
punya harga diri, orang yang banyak dengki tidak memiliki ketentraman,
orang yang suka bosan tidak punya saudara, dan orang yang buruk akhlak-nya
tidak punya penolong.' Aku berkata, 'Wahai putra Rasulul-lah, tambahkan
kepadaku.' Beliau berkata, 'Wahai Sufyan, jauhilah hal-hal yang diharamkan
Allah, maka kamu menjadi seorang 'abid (ahli ibadah). Ridhalah dengan apa
yang Allah bagikan kepadamu, maka kamu menjadi seorang muslim (yang
sejati). Pergaulilah manusia dengan apa yang kamu suka bila mereka
memperlakukanmu, maka kamu menjadi seorang mukmin (yang sejati), dan jangan
bergaul dengan orang yang suka berbuat dosa sehingga ia mengajarkan
perbuatan dosanya ke-padamu. Seseorang itu tergantung agama kekasihnya.
Oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan, dengan
siapakah ia bergaul. Dan mintalah saran dalam urusan-mu kepada orang-orang
yang takut kepada Allah.' Aku berkata, 'Wahai putra Rasulullah, tambahkan
kepadaku!' Beliau berkata, 'Wahai Sufyan, barangsiapa yang ingin hidup
mulia dengan tanpa sanak kerabat, dan kewibawaan tanpa kekuasaan, maka
hendaklah ia keluar dari kehinaan kemaksiatan menuju kemulia-an ketaatan.'
Aku katakan, 'Wahai putra Rasulullah, tambahkan kepadaku!' Beliau berkata,
'Ayah mendidikku dengan tiga perkara, beliau berkata kepadaku, 'Wahai
putraku, barang-siapa yang berteman dengan teman yang buruk maka ia tidak
akan selamat, barangsiapa yang memasuki gerbang keburuk-an maka ia akan
dituduh (telah melakukan keburukan) dan barangsiapa yang tidak bisa menahan
lisannya maka ia akan menyesal'."

Zainal Abidin bin Ali bin al-Husain RAH jika berwudhu dan selesai dari
wudhunya, maka ia ketakutan. Ketika dia ditanya mengenai hal itu, maka dia
menjawab, "Kasihan kalian, tahukah kalian kepada siapa aku akan berdiri dan
kepada siapa aku hendak bermunajat?"

Al-Mughirah 5 berkata, "Aku keluar pada suatu malam setelah manusia sudah
tidur pulas. Ketika aku melewati Malik bin Anas RA, ternyata aku berdiri
bersamanya untuk melaksa-nakan shalat. Ketika selesai dari membaca
al-Fatihah, ia mulai membaca,
'Bermegah-megahan telah melalaikan kamu' (At-Takatsur: 1)

hingga sampai ayat,
'Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenik-matan (yang
kamu megah-megahkan di dunia itu),' (At-Taka-tsur: 8)

Maka ia menangis dalam waktu yang lama. Ia terus membacanya berulang-ulang
dan menangis. Apa yang aku dengar dan aku lihat darinya telah melupakanku
dari keperluanku yang karena-nya aku keluar. Aku masih tetap berdiri,
sedangkan dia terus membacanya berulang-ulang sambil menangis hingga terbit
fajar. Ketika ia mengetahui sudah fajar, maka ia rukuk. Kemudian aku pulang
ke rumah, lalu berwudhu, lalu berangkat kembali ke masjid. Ternyata ia
sedang berada di majelisnya dan orang-orang berada di sekitarnya. Pada pagi
harinya, aku memandangnya. Ternyata aku melihat wajahnya telah diliputi
cahaya dan ke-indahan."

Al-Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa asy-Syafi'i suatu hari membaca
firmanNya,
"Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan
orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah
tipu dayamu itu terhadapKu. Kece-lakaan yang besarlah pada hari itu bagi
orang-orang yang men-dustakan." (Al-Mursalat: 38-40).

Maka ia terus menangis sampai pingsan; Semoga Allah merahmatinya.*
Umar bin Abdil Aziz RA berkata kepada seorang ulama, "Berilah nasihat
kepadaku!" Ulama itu berkata, "Bertakwalah ke-pada Allah karena engkau akan
mati." Umar berkata, "Tambah-kan kepadaku!" Ia berkata, "Tidak ada seorang
pun dari nenek moyangmu hingga Adam melainkan telah merasakan kematian. Dan
kini tiba giliranmu." Umar pun menangis karenanya.

Umar bin Abdil Aziz RA biasa mengumpulkan para ulama dan fuqaha' pada
setiap malam untuk saling mengingatkan kematian dan Kiamat. Kemudian mereka
menangis seolah-olah ada jenazah di tengah-tengah mereka.

Mu'adzah al-Adawiyyah RA** jika tiba siang hari, ia berkata, "Ini adalah
hari di mana aku akan mati." Lalu ia tidak tidur hingga sore hari. Ketika
tiba malam hari, ia berkata, "Ini adalah malam di mana aku akan mati." Lalu
ia tidak tidur kecuali se-bentar. Ia shalat dan menangis hingga pagi. Ia
pernah berkata, "Sungguh mengherankan bagi mata yang selalu tidur, padahal
ia telah mengetahui akan adanya tidur panjang di dalam kubur yang gelap."

Hammad bin Salamah berkata, "Tsabit membaca,
'Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian
dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang
sempurna,' (Al-Kahfi: 37)
pada shalat malam sambil menangis dan mengulang-ulangnya."***

Tsabit al-Bunani RA**** berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang aku jumpai
dalam hatiku yang lebih lezat daripada qiyamul lail. Seandainya kaum yang
celaka mencobanya, niscaya mereka me-ngetahui rahasia kebahagiaan yang
sebenarnya."

Hammad bin Zaid berkata tentang Tsabit al-Bunani, "Aku melihat Tsabit
menangis hingga tulang-tulang rusuknya ber-selisih." Raghib al-Qathan
menuturkan dari Bakr al-Muzani, "Barangsiapa yang ingin melihat orang yang
paling gemar ber-ibadah di zamannya, maka lihatlah Tsabit al-Bunani."

Qatadah berkata, " Menjelang kematiannya,Amir bin Qais RA menangis.
Ditanyakan kepadanya, 'Apakah yang membuat-mu menangis?' Ia menjawab, 'Aku
tidak menangis karena ber-sedih terhadap kematian dan tidak pula karena
menginginkan harta duniawi. Tetapi aku menangisi kehausan di tengah hari
(yakni puasa) dan qiyamul lail."*****
Ibunya berkata kepadanya pada suatu hari, "Orang-orang sedang tidur,
mengapa kamu tidak tidur?" Ia menjawab, "Neraka Jahanam tidak membiarkanku
tidur."

Tsabit al-Bunani RA berkata, "Kami pernah menyaksikan beberapa jenazah,
maka kami tidak menyaksikan mereka kecuali dalam keadaan menangis.
Demikianlah rasa takut mereka kepada Allah SWT."

Ketika saudara Malik bin Dinar meninggal, Malik keluar mengikuti jenazahnya
dengan menangis seraya berkata, "Demi Allah, aku tidak terhibur hingga aku
tahu ke mana engkau kem-bali, dan aku tidak tahu selagi aku masih hidup."

Seorang shalih berkata, "Aku berjalan bersama Sufyan ats-Tsauri , tiba-tiba
seorang pengemis datang kepadanya, sedangkan dia tidak memiliki sesuatu
untuk diberikan, maka Sufyan me-nangis. Aku bertanya, 'Apakah yang
membuatmu menangis?' Dia menjawab, 'Suatu musibah bila seseorang
mengharapkan ke-baikan darimu tapi ia tidak mendapatkannya'."

CATATAN KAKI:

* Ibnu al-Atsir, Manaqib asy-Syafi'i, hal. 108
** Mu'adzah binti Abdillah al-Adawiyyah, adalah seorang wanita ahli ibadah
sekaligus seorang ulama wanita dari Bashrah, dinilai tsiqah (dapat
dipercaya) oleh Yahya bin Ma'in. Meninggal pada tahun 83 H. Lihat, Siyar
A'lam an-Nubala', 4/ 508
*** Siyar A'lam an-Nubala', 5/ 224
**** Tsabit al-Bunani adalah seorang imam panutan, tabi'in, tsiqah, abid
dan zahid, meninggal pada tahun 127 H. Lihat, Siyar A'lam an-Nubala', 5/
220
***** Lihat, Siyar A'lam an-Nubala', 4/ 19

Tidak ada komentar: