Kamis, 27 Desember 2007

TANDA ORANG YANG SOMBONG

TANDA ORANG YANG SOMBONG
Oleh : Syaikh Ibnu Atho'illah

" Sebagian dari tanda-tanda orang yang senantiasa membanggakan amal perbuatannya, berarti kurang mempunyai pengharapan terhadap rahmat Allah, tatkala terjadi kekhilafan pada dirinya ".

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia mempunyai sifat khilaf dan lupa. Walau bagaimanapun kepandaian seseorang, sekali waktu ia pasti berbuat khilaf dan lupa. Karena itu, sebagai makhluq yang lemah kita harus senantiasa memohon rahmat dan ampunan dari-Nya atas segala kekhilafan dan kesalahan kita, baik yang kita sengaja maupun tidak.
Apabila ada seseorang yang berbuat kekhilafan atau kesalahan, kemudian dia tidak mau memohon rahmat dan ampunan dari Allah, bahkan dia lalu menyombongkan diri atas amal perbuatannya, maka orang seperti inilah yang disebut sebagai kurang mempunyai pengharapan terhadap rahmat Allah, pada Al-Qur'an ayat 87 disebutkan, bahwa sesungguhnya tiada terputus asa dari mengharap rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.
Tersebutlah beberapa kisah tentang kesombongan makhluq Allah baik dari kalangan bangsa manusia sendiri maupun dari bangsa jin, yang dengan sombong tidak mau mengharap rahmat dari Allah dan hanya menyombongkan amal perbuatan diri sendiri.
Beberapa kisah tersebut antara lain :
I. Kisah tentang Abu Lahab dalam Al-Qur'an Surat Al-Lahb ayat 1 - 5.
1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
2. Tiadalah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah)
5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

II. Kisah tentang Qorun dalam Al-Qur'an Surat Al-Qoshosh ayat 78.
Qorun berkata : "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karana ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat dari padanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

III. Kisah tentang Iblis dalam Al-Qur'an Surat Al-A'rof ayat 12 - 13.
Allah berfirman : "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?"
Menjawab iblis : "Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman : "Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".

Dari beberapa kisah diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang menyombongkan diri dan tiada mengharap rahmat dari Allah, sesungguhnya ia telah mencelakakan diri mereka sendiri, baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Adapun tanda-tanda orang yang celaka, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Ibnul Qoyim Al-Jauzi, adalah sebagai berikut :
> Sesungguhnya semakin tambah ilmunya, semakin bertambah pula kesombongan dan kecongkakannya.
> Setiap bertambah amalnya, semakin bertambah kebanggaannya dan memandang rendah orang lain, serta semakin bertambah prasangka baiknya terhadap diri sendiri.
> Semakin tambah usianya, semakin bertambah rakus dan serakahnya kepada dunia.
> Semakin menumpuk harta dan kekayaannya, semakin bertambah bakhil dan kikirnya.
> Semakin meningkat derajat dan pangkatnya, semakin meningkat pula kesombongan dan keangkuhannya.

Sumber : Matnul Hikam (Jadilah Muslim Yang Berkualitas)

SYURAIH AL-QADLI

SYURAIH AL-QADLI (Sisi-Sisi Keadilan Islam Nan Membuat Air Mata Menitik Terharu)


"Ada orang yang bertanya kepada Syuraih, 'Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini?.' Dia menjawab, 'Dengan bermudzakarah bersama para ulama; Aku mengambil dari mereka dan mereka mengambil dariku" (Sufyan al-Ausi)

Amirul mu'minin, Umar bin Al-Khaththab membeli seekor kuda dari seorang laki-laki Badui, dan membayar kontan harganya, kemudian menaiki kudanya dan pergi.

Akan tetapi belum jauh mengendarai kuda, beliau menemukan luka pada kuda itu yang membuatnya terganggu ketika berpacu, maka beliau segera kembali ke tempat dimana beliau berangkat, lalu berkata kepada orang Badui tersebut, "Ambillah kudamu, karena ia terluka." Maka orang itu menjawab, "Aku tidak akan mengambilnya -wahai Amirul mu'minin- karena aku telah menjualnya kepada anda dalam keadaan sehat tanpa cacat sedikitpun." Lalu Umar berkata, "Tunjuklah seorang hakim yang akan memutus antaramu dan aku." Lalu orang itu berkata, "Yang akan menghakimi di antara kita adalah Syuraih bin al-Harits al-Kindi." Lalu Umar berkata, "Baiklah, aku setuju."

Amirul mu'minin Umar bin al-Khathab dan pemilik kuda pun menyerahkan perkaranya kepada Syuraih. Ketika Syuraih mendengar perkataan orang Badui, dia menengok ke arah Umar bin al-Khaththab dan berkata, "Apakah engkau menerima kuda dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul mu'minin?." "Ya." Jawab 'Umar. Syuraih berkata, "Simpanlah apa yang anda beli- wahai Amirul mu'minin- atau kembalikanlah sebagaimana anda menerima."

Maka Umar melihat kepada Syuraih dengan pandangan kagum dan berkata, "Beginilah seharusnya putusan itu; ucapan yang pasti dan keputusan yang adil. Pergilah anda ke Kufah, aku telah mengangkatmu sebagai hakim (Qadli) di sana."

Pada saat diangkat sebagai hakim, Syuraih bin al-Harits bukanlah seorang yang tidak dikenal oleh masyarakat Madinah atau seorang yang kedudukannya tidak terdeteksi oleh ulama dan Ahli Ra'yi dari kalangan para pembesar Sahabat dan Tabi'in.

Orang-orang besar dan generasi dahulu, telah mengetahui kecerdasan dan kecerdikan Syuraih yang sangat tajam, akhlaknya yang mulia dan pengalaman hidupnya yang lama dan mendalam.

Dia adalah seorang berkebangsaan Yaman dan keturunan Kindah, mengalami hidup yang tidak sebentar pada masa Jahiliyah.

Ketika jazirah Arab telah bersinar dengan cahaya hidayah, dan sinar Islam telah menembus bumi Yaman, Syuraih termasuk orang-orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyambut dakwah hidayah dan kebenaran. Waktu itu mereka telah mengetahui keutamaannya dan mengakui akhlak dan keistimewaannya.

Mereka sangat menyayangkan dan bercita-cita andaikata dia ditakdirkan untuk datang ke Madinah lebih awal sehingga bertemu Rasulullah SAW sebelum beliau kembali kepada Tuhannya, dan mentransfer ilmu beliau yang jernih bersih secara langsung, bukan melalui perantara dan supaya beruntung mendapatkan predikat "sahabat" setelah mengenyam nikmatnya iman. Dengan begitu, dia akan dapat menghimpun segala kebaikan. Akan tetapi dia sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan Rasulullah.

Umar al-Faruq radliyall���âhu 'anhu tidaklah tergesa-gesa, ketika menempatkan seorang Tabi'in pada posisi besar di peradilan, sekalipun pada waktu itu langit-langit Islam masih bersinar-sinar dengan bintang-bintang sahabat Rasulullah Shallall���âhu 'alaihi Wa Sallam. Waktu telah membuktikan kebenaran firasat Umar dan ketepatan tindakannya dimana Syuraih menjabat sebagai hakim di tengah kaum muslimin sekitar enam puluh tahun berturut-turut tanpa putus.

Pengakuan terhadap kapasitasnya dalam jabatan ini dilakukan secara silih berganti sejak dari pemerintahan Umar, Utsman, Ali hingga Muawiyah radliyall���âhu 'anhum.

Begitu pula dia diakui oleh para khalifah Bani Umayyah pasca Muawiyah, hingga akhirnya pada zaman pemerintahan al-Hajjaj dia meminta dirinya dibebaskan dari jabatan tersebut. Dan pada waktu itu dia telah berumur seratus tujuh tahun, dimana hidupnya diisi dengan segala keagungan dan kebesaran.

Sejarah Peradilan Islam telah bergelimang dengan sikap Syuraih yang menawan dan berkibar dengan ketundukan kalangan elit dan awam kaum Muslimin terhadap syari'at Allah yang ditegakkan Syuraih dan penerimaan mereka terhadap hukum-hukum-Nya. Buku-buku induk penuh dengan keunikan, berita, perkataan dan tindakan tokoh langka satu ini.

Di antara contohnya adalah, bahwa suatu hari Ali bin Abi Thalib RA kehilangan baju besinya yang sangat disukainya dan amat berharga baginya. Tidak lama dari itu, dia menemukannya berada di tangan orang kafir dzimmi. Orang itu sedang menjualnya di pasar Kufah. Ketika beliau melihatnya, beliau mengetahui dan berkata, "Ini adalah baju besiku yang jatuh dari ontaku pada malam anu, di tempat anu." Lalu kafir Dzimmi itu berkata, "Ini adalah baju besiku dan sekarang ada di tanganku, wahai Amirul mu'minin." Lalu Ali berkata, "Itu adalah baju besiku, aku belum pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapapun, hingga kemudian bisa jadi milik kamu."

Lalu orang kafir itu berkata, "Mari kita putuskan melalui seorang Hakim kaum Muslimin." Lalu Ali berkata, "Kamu benar, mari kita ke sana." Kemudian keduanya pergi menemui Syuraih al-Qadli, dan ketika keduanya telah berada di tempat persidangan, Syuraih berkata kepada Ali RA, "Ada apa wahai Amirul mu'minin?."

Lalu Ali menjawab, "Aku telah menemukan baju besiku di bawa orang ini, baju besi itu telah terjatuh dariku pada malam anu dan di tempat anu. Kini ia telah berada di tangannya tanpa melalui jual beli ataupun hibah."

Lalu Syuraih berkata kepada orang kafir itu, "Dan apa jawabmu, wahai orang laki-laki?." Lalu dia menjawab, "Baju besi ini adalah milikku dan ia ada di tanganku tapi aku tidak menuduh Amirul mu'minin berdusta." Maka Syuraih menoleh ke arah Ali dan berkata, "Aku tidak meragukan bahwa anda adalah orang yang jujur dalam perkataanmu, wahai Amirul mu'minin, dan bahwa baju besi itu adalah milikmu, akan tetapi anda harus mendatangkan dua orang saksi yang akan bersaksi atas kebenaran apa yang anda klaim tersebut."

Lalu Ali berkata, "Baiklah! Budakku Qanbar dan anakku al-Hasan akan bersaksi untukku." Maka Syuraih berkata, "Akan tetapi kesaksian anak untuk ayahnya tidak boleh, wahai Amirul mu'minin." Lalu Ali berkata, "Ya Subhanallah!! Orang dari ahli surga tidak diterima kesaksiannya!! Apakah anda tidak mendengar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "al-Hasan dan al-Husain adalah dua pemuda ahli surga."

Lalu Syuraih berkata, "Benar wahai Amirul mu'minin! namun aku tidak menerima kesaksian anak untuk ayahnya." Setelah itu Ali menoleh ke arah orang kafir itu dan berkata, "Ambillah, karena aku tidak mempunyai saksi selain keduanya." Maka kafir Dzimmi itu berkata, "Akan tetapi aku bersaksi bahwa baju besi itu adalah milikmu, wahai Amirul mu'minin."

Kemudian dia meneruskan perkataannya, "Ya Allah! Kok ada Amirul mu'minin menggugatku di hadapan hakim yang diangkatnya sendiri, namun hakimnya malah memenangkan perkaraku terhadapnya!! Aku bersaksi bahwa agama yang menyuruh ini pastilah agama yang haq. Dan aku bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Hamba dan utusan Allah." Ketahuilah wahai Qadli, bahwa baju besi ini adalah benar milik Amirul mu'minin. Aku mengikuti tentara yang sedang berangkat ke Shiffin (Suatu daerah di Siria, di sana terjadi peperangan besar antara Ali dan Muawiyah RA) lalu menemukan baju besi terjatuh dari onta berwarna abu-abu, lalu memungutnya."

Maka Ali RA berkata kepadanya, "Karena engkau telah masuk Islam, maka aku menghibahkannya kepadamu, dan aku memberimu juga seekor kuda."

Dan belum lama dari kejadian ini, orang kafir itu ternyata ditemukan mati syahid saat ikut berperang melawan orang-orang Khawarij di bawah bendera Ali, pada perang Nahrawan. Orang itu amat bersemangat dalam berperang hingga dia mati syahid."

Di antara sikap menawan yang ditunjukkan juga oleh Syuraih adalah bahwa pernah suatu hari, putranya berkata kepadanya, "Wahai ayahku, sesungguhnya antara aku dan kaum kita ada perselisihan, maka telitilah perkaranya; jika kebenaran ada di pihakku, aku akan menggugat mereka ke pengadilan dan jika kebenaran ada di pihak mereka, aku akan mengajak mereka berdamai." Kemudian sang putra menuturkan kisahnya kepada ayahnya.

Lalu ayahnya berkata kepadanya, "Kalau begitu, pergilah dan ajukan mereka ke pengadilan." Lalu putranya menemui lawannya dan mengajak mereka memperkarakannya ke pengadilan. Mereka pun menyetujuinya.

Dan ketika mereka telah berada di hadapan Syuraih, Syuraih memenangkan perkara mereka terhadap putranya.

Ketika syuraih dan putranya telah pulang ke rumah, sang putra berkata kepada ayahnya, "Engkau telah mempermalukanku, wahai ayahku!" Demi Allah seandainya aku tidak mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepadamu, tentu aku tidak akan mengecammu seperti ini." Maka syuraih berkata, "Wahai anakku, Sungguh engkau memang lebih aku cintai daripada bumi dan seisinya, akan tetapi Allah 'Azza wa Jalla lebih Mulia dan berharga bagiku daripada dirimu. Bila aku beritahukan kepadamu bahwa kebenaran berada di pihak mereka, aku khawatir engkau akan mengajak mereka berdamai dimana hal ini akan menghilangkan sebagian hak mereka. Karenanya, aku mengatakan kepadamu seperti itu tadi."

Pernah terjadi bahwa anak Syuraih menjadi jaminan seseorang, dan Syuraih menerimanya, ternyata orang itu kabur dari pengadilan. Maka Syuraih memenjarakan anaknya sebagai ganti jaminan orang yang kabur itu. Akhirinya, Syuraih sendiri yang mengirimi makanannya setiap hari ke penjara.

Terkadang, Syuraih meragukan sebagian saksi. Namun dia tidak mendapatkan jalan untuk menolak kesaksiannya, karena syarat keadilan telah mencukupi mereka, maka dia berkata kepada mereka sebelum mereka menyatakan kesaksiannya,

"Dengarkanlah aku -mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada anda semua-Sesungguhnya yang menghakimi orang ini adalah kalian sendiri. Dan sesungguhnya aku hanya menjaga diri dari api neraka melalui kalian. Karena itu, bila kalian sendiri yang berlindung darinya adalah lebih utama lagi."

Sekarang memungkinkan bagi kalian untuk tidak memberikan kesaksian dan berlalu.

Jika mereka bersikeras untuk bersaksi, Syuraih menoleh kepada orang yang mereka bersaksi untuknya, seraya berkata, "Ketahuilah, wahai tuan, sesungguhnya aku mengadili anda melalui kesaksian mereka. Dan sesungguhnya aku melihat anda adalah orang yang dzalim. Akan tetapi aku tidak boleh memberikan putusan berdasarkan sangkaan, tetapi berdasarkan kesaksian para saksi. Dan sesungguhnya keputusanku, tidak menghalalkan sama sekali apa yang diharamkan Allah terhadapmu."

Dan ungkapan yang sering diulang-ulang oleh Syuraih di ruang sidangnya adalah perkataannya, "Besok orang dzalim akan mengetahui siapa yang rugi. Sesungguhnya orang yang dzalim sedang menunggu siksa. Sedangkan orang yang teraniaya menunggu keadilan. Dan sesungguhnya aku bersumpah kepada Allah, bahwa tidak ada seorangpun yang meninggalkan sesuatu karena Allah Azza wa Jalla, kemudian dia merasa kehilangannya."

Syuraih bukan hanya sebagai penasehat karena Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya saja, akan tetapi dia juga penasehat untuk kalangan awam dan kalangan khusus kaum muslimin semua. Salah seorang dari mereka meriwayatkan, "Syuraih memperdengarkan kepadaku suatu ucapan saat aku mengadukan sebagian sesuatu yang meresahkanku karena ulah seorang kawanku. Lantas Syuraih memegang tanganku dan menarikku ke pinggir seraya berkata, "Wahai anak saudaraku, janganlah kamu mengadu kepada selain Allah Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya orang yang kamu mengadu kepadanya, bisa jadi dia adalah kawanmu atau musuhmu. Kalau dia kawan, berarti kamu akan membuatnya bersedih. Dan kalau dia musuh, maka kamu akan ditertawakannya."

Kemudian dia berkata, "Lihatlah mataku ini- dan dia menunjuk ke salah satu matanya- Demi Allah, aku tidak bisa melihat seseorang dan jalan karenanya sejak lima belas tahun lalu. Sekalipun demikian, aku tidak ceritakan kepada siapapun mengenainya, kecuali kepadamu sekarang ini. Tidakkah kamu mendengar ucapan seorang hamba yang shaleh (yakni Nabi Ya'qub a.s), 'Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.'(Yusuf:86). Maka jadikanlah Allah Azza wa Jalla sebagai tempat mengadu dan melampiaskan kesedihanmu setiap kali musibah menimpamu.

Karena Dia adalah Dzat Yang paling Dermawan dan Yang paling dekat untuk diseru." Pada suatu hari, dia melihat ada seseorang sedang meminta sesuatu kepada orang lain, lalu dia berkata kepadanya, "Wahai anak saudaraku, siapa yang memohon hajat kepada manusia, maka dia telah menjerumuskan dirinya ke dalam perbudakan. Jika orang yang diminta itu memberinya, maka dia telah menjadikannya budak karena pemberian itu.

Dan jika orang itu tidak memberinya, maka keduanya akan kembali dengan kehinaan. Yang satu, hina karena bakhil sedangkan yang satu lagi hina karena ditolak. Maka jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, bahwa tidak ada upaya, kekuatan dan pertolongan kecuali dengan Allah.

Saat suatu ketika, di Kufah telah mewabah penyakit Tha'un, lalu salah seorang sahabat Syuraih kabur dari sana menuju ke Najef untuk menyelamatkan diri dari penyakit tersebut, maka Syuraih mengirim surat kepadanya, "Amma ba'du, Sesungguhnya daerah yang kamu tinggalkan tidak mendekatkan kematianmu dan tidak juga merampas hari-harimu. Dan sesungguhnya daerah yang kamu pindah ke sana adalah berada dalam genggaman Dzat Yang tidak bisa dikalahkan dengan usaha dan tidak akan luput pelarian itu dari-Nya.

Dan sesungguhnya kami dan kamu juga berada di atas hamparan Raja Yang Satu. Dan sesungguhnya Najef adalah sangat dekat dari Dzat Yang Maha Kuasa." Di samping hal itu semua, Syuraih juga seorang penyair, mudah dicerna, manis penyampaiannya dan tema-temanya begitu memikat.

Menurut suatu riwayat, dia mempunyai seorang anak berumur sekitar sepuluh tahun, dan anak itu lebih suka meghabiskan waktu untuk bermain dan berhura-hura. Pada suatu hari dia kehilangan anak itu, dan ternyata anak itu tidak masuk sekolah dan menggunakan wakut tersebut untuk melihat anjing-anjing. Dan ketika anak itu pulang, dia bertanya kepadanya, Apakah kamu sudah shalat? Maka anak itu menjawab, Belum. Lalu Syuraih meminta kertas dan pena, lalu menulis surat kepada guru anak itu dalam untain berikut: Anak ini meninggalkan shalat karena mencari anjing-anjing Mengincar kejelekan bersama anak-anak nakal Sungguh dia akan menemuimu besok membawa secarik lembaran. Dituliskan untuknya seperti lembaran pemohon (minta dieksekusi)
Jika dia datang kepadamu, maka obatilah dengan celaan. Atau nasehati dengan nasehat orang bijak lagi cerdik. Jika ingin memukulnya, maka pukullah dengan alat. Jika pukulan telah sampai tiga kali, maka hentikanlah. Ketahuilah bahwa anda tidak akan mendapatkan sepertinya. Apapun yang diperbuatnya, ia adalah jiwa yang paling berharga bagiku

Mudah-mudahan Allah meridhai Umar al-Faruq yang telah menghias wajah peradilan Islam dengan permata yang mulia lagi asli. Mutiara yang putih dan tampak menawan.

Beliau telah memberikan lentera terang kepada kaum muslimin yang hingga sekarang mereka masih mengambil sinar kefiqihannya terhadap syariat Allah. Berpetunjuk dengan cahaya kefahamannya terhadap Sunnah Rasulullah. Dan berbangga dengannya terhadap umat-umat lain pada hari kiamat. Mudah-mudahan Allah merahmati Syuraih aql-Qadhli.

Dia telah menegakkan keadilan di tengah manusia selama enam puluh tahun, tidak pernah berbuat dzalim terhadap siapapun, tidak pernah melenceng dari kebenaran serta tidak pernah membedakan antara raja dan masyarakat biasa.

CATATAN:
Sebagai bahan tambahan biografi Syuraih al-Qadli, silahkan baca:
ath-Thabaqat al-Kubra, oleh Ibnu Sa'd, 6/11, 34, 94, 108, 109, 170, 206, 268, dan 7/151, 194, 453 dan 8/ 494.
Shifat ash-Shafwah, oleh Ibnu Al-Jauzi (cetakan Halb), 3/38.
Hilyatu al-Auliya, oleh Al-Ashfahani, 4/256-258.
Tarikh ath-Thabari, oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jilid 4,5,6 (Lihat daftar isi di jilid 10)
Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath, 129, 158, 184, 217, 251, 266, 298, 304.
Syadzarat adz-Dzahab, 1/85-86.
Fawat al-Wafayat, 2/167-169.
Kitab al-Wafayat, oleh Ahmad bin Hasan bin Ali bin Al-Khathib, 80-81.
al-Muhabbar, oleh Muhammad bin Habib, 305, 387.
Dairatu al-Ma'arif, oleh farid Wajdi, 5/373-473.

Abu Bakar Ash Shidiq

Abu Bakar Ash Shidiq
Oleh : Haryanto


Kompetensi inti atau kompetensi utama Abu Bakar RA terdiri dari
integritas (ING), konsisten dan komitmennya (CO) pada kebenaran,
kepemimpinan (Leadership)yang kuat dan kedermawanan (Charitable).

Beliau adalah sahabat yang paling mulia setelah Rasululah Orang
pertama-tama masuk Islam. Orang yang menggantikan Rasulullah sebagai
Imam. Sahabat sejak kecil sekaligus mertua Rasulullah

ING (Integritas)

Integritas adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan
kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaaan
yang sulit untuk melakukan ini, dengan kata lain "satunya kata dengan
perbuatan". Mengkomunikasikan maksud ide dan perasan secara terbuka,
jujur dan langsung sekalipun dalam negoisasi yang sulit dengan pihak
lain.[1]

Begitupun Abu Bakar, ia adalah orang yang memiliki integritas dan
kejujuran yang tinggi. Ini dibuktikan dalam kesederhanaan hidupnya.
Serta sikapnya yang sangat cermat, teliti dan hati-hati dalam mengelola
kas Negara (baitul maal).

Joesoef Sou'ib dalam bukunya Sejarah Khulafaur Rasyidin menyatakan,
meskipun sebagian panglima perang dan pejabat pemerintahan khalifah Abu
Bakar hidup dalam kemewahan, namun beliau tetap hidup dalam
kesederhanaan.

"... akan tetapi khalifah abu Bakar tetap tinggal dalam rumah
biasa di Medinah, hidup sebagai rakyat biasa, membeli kebutuhannya di
pasar dan menjadi imam setiap sholat lima waktu."[2]

"Sejarah mencatat bahwa masa pemerintahannya yang 2 tahun 3 bulan
itu, Abu Bakar hanya mengeluarkan 8.000 (delapan ribu) dirham[3] dari
Baitul Maal bagi keperluan keluarganya."[4] Beliau juga menolak
mengambil dari Baitul Maal melebihi dari kebutuhan hidupnya.[5]

"... Abu Bakar wafat meninggalkan seekor unta, ember, susu dan
baju resmi, serta dengan gigih mengembalikannya ke Baitul Maal."[6]
Adakah pejabat di negeri ini seperti beliau? Atau justru mobil, uang,
deposito, rumah, perusahaan dan tanah mereka semakin banyak serta
semakin sulit dihitung oleh KPK.

Abu Bakar juga termasuk orang yang dapat dipercaya dan sangat
dipercaya oleh Rasulullah ??? ???? ???? ?????. Rasulullah berkata,
"Tidak kuajak seorangpun masuk Islam melainkan ia ragu dan bimbang,
kecuali Abu Bakar." (Riwayat Ibnu Ishaq).[7]

Ia adalah teman setia Rasulullah dalam perjalanan hijrah. Dan yang
menemani beliau ketika di gua Tsur. Beliau juga tidak pernah absen
dalam semua peperangan bersama Rasulullah.[8] Kalau bukan orang
terpercaya tentu Rasulullah tidak akan mengajak Abu Bakar dalam
perjalanan yang sangat rahasia dan sangat berbahaya ini.

Bahkan ketika Rasulullah melakukan Isra' Mi'raj dari Masjidil haram ke
Masjidil Aqsha kemudian naik ke langit tujuh, banyak orang musyrik yang
tidak percaya. Lalu mereka mendatangi Abu Bakar dengan harapan Abu
Bakar akan menolaknya.

Tetapi ternyata Abu Bakar mejawab, "Jika memang benar Muhammad yang
mengatakannya, maka ia telah berkata benar, dan sungguh aku akan
membenarkannya lebih dari itu."[9] Karena itulah Abu Bakar mendapat
gelar Ash Shidiq.

Komitmen Pada Jama'ah (Commitmen to Organization)

Kompetensi inti (core) lainnya dari Abu Bakar adalah komitmennya
pada organisasi (jama'ah). Komitmen Organisasi adalah kemampuan dan
kemauan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dengan kebutuhan,
perioritas dan sasaran organisasi, ini mencakup cara-cara mengembangkan
tujuan atau memenuhi kebutuhan organisasi. Intinya adalah mendahulukan
misi organisasi dari pada kepentingan pribadi.[10]

Dalam bahasa penulis adalah mendahulukan kepentingan umat dan jama'ah
kaum muslimin di atas kepentingan pribadi. Jama'ah juga berarti
komitmen kepada kebenaran.

Dan Abu Bakar adalah orang yang sangat mendahulukan kepentingan
umatnya/kaum muslimin serta sangat komitmen dengan kebenaran.

Contohnya, setelah diangkat sebagai khalifah, beliau berkhutbah dan
berpidato di atas mimbar Masjid Nabawi :

Hai orang banyak semuanya

Aku diangkat mengepalai kalian

Dan aku bukanlah yang terbaik diantara kalian

Jika aku membuat kebaikan

Maka dukunglah aku

Jika aku membuat kejelekan

Maka luruskanlah aku

Kebenaran itu suatu amanat

Dan kebohonganitu suatu khianat

Yang terlemah diantara kalian aku anggap yang terkuat sampai aku
mengambil dan memulangkan haknya.

Yang terkuat diantara kalian aku anggap yang terlemah sampai aku
mengambil hak si lemah dari tangannya.

Janganlah seorangpun diantara kalian meninggalkan jihad

Kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah

Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya.

Bila aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya tidak ada kewajiban patuh
kepadaku

Kini marilah kita melakukan sholat

Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kalian[11]

Coba anda cari pemimpin di dunia yang siap dikritik jika melakukan
kesalahan dan kejahatan. Pemimpin-pemimpin kerdil itu justru
memberangus, memenjarakan dan membunuh orang-orang yang mengkritiknya.

Beliau juga sangat komitmen dalam tugasnya menjaga kemurnian ajaran
Islam. Karena pada saat itu terjadi banyak kesesatan seperti lahirnya
nabi palsu Musailamah Al Kadzab la'natullah, gerakan pemurtadan
(riddah) dan pembangkangan.

Sejarawan Islam Joesoef Sou'yb mencatat, "Wafatnya Rasululah telah
menimbulkan kegoncangan di semenanjung Arabia. Timbul gerakan riddat
disana-sini. Yakni gerakan membelot dari agama Islam. Hampir seuruh
kabilah-kabilah di luar kota Madinah dan Mekah terlibat dalam gerakan
riddat. Begitupun kerajaan-kerajaan setempat pada belahan selatan
Arabia. Peristiwa itu menimbulkan kecemasan yang besar di ibukota
Madinah Al Munawwarah."[12]

Dalam kondisi seperti ini tampak jelas kompetensi Abu Bakar dalam
membela kebenaran sekaligus juga kuatnya karakter kepemimpinan
(Leadership)dan keberanian beliau.

Dengan komitmen dan tekad yang bulat Abu Bakar mengirimkan pasukan
untuk memberantas para pemeberontak agama tersebut. Akhirnya beliau
berhasil mengatasi ujian berat ini. Beliau berhasil menumpas kaum
riddat di Bahrain, Oman, Mahra, Hadralmaut dan Yaman.[13]

Komitmen dalam kebenaran ini juga ditunjukkan dalam sikapnya untuk
selalu memenuhi hak-hak Allah SWT dan hak-hak manusia. Suatu hari
Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :

"Siapa diantara kalian yang berpuasa hari ini?", "Saya jawab Abu
Bakar.". Siapa yang mengiringi jenazah pada hari ini?, "Saya jawab Abu
Bakar." Siapa diantara kalian yang memberi makan fakir miskin pada hari
ini?, "Saya jawab Abu Bakar." (HR Muslim).[14]

Team Leadership (TL) Abu Bakar

Kepemimpinan Abu Bakar terlihat pada sikapnya dalam membela
kebenaran dan menumpas gerakan pemurtadan & nabi palsu sebagaimana
telah dijelaskan di atas.

Bukti ini juga terlihat dalam debat yang seru antara beliau dan
Umar bin Khattab dalam mensikapi orang-orang yang tidak mau membayar
zakat.

Umar berpendirian bahwa mereka tidak perlu diperangi selama mereka
masih sholat. Sementara Abu Bakar berpendirian untuk memerangi dan
menumpas orang yang memisahkan antara sholat dan zakat. Sebab zakat
adalah bagian dari rukun Islam. Maka jika salah satunya roboh maka
robohlah rukun Islam. Yang berarti keluar dari Islam (murtad).

Bukti lainnya adalah hanya
Bukti ini juga terlihat dalam debat yang seru antara beliau dan Umar
bin Khattab dalam mensikapi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Umar berpendirian bahwa mereka tidak perlu diperangi selama mereka
masih sholat. Sementara Abu Bakar berpendirian untuk memerangi dan
menumpas orang yang memisahkan antara sholat dan zakat. Sebab zakat
adalah bagian dari rukun Islam. Maka jika salah satunya roboh maka
robohlah rukun Islam. Yang berarti keluar dari Islam (murtad).

Bukti lainnya adalah hanya Abu Bakar (diantara para sahabat) yang
mampu meng-Islamkan seluruh anggota keluarganya. Beliau meng-Islamkan
bapak dan ibunya. Semua anak laki-lakinya yaitu Abdullah, Abdurrahman
dan Muhammad. Dan anak-anak perempuannya yaitu Asma', Aisyah dan Ummi
Habibah.

Beliau juga meng-Islamkan semua istri-istrinya. Qatilah, Ummi
Ruman dan Asma' binti Umais dan Habibah binti Kharijah Radiyallahu
'anhum.[1]

Selain itu beliau juga meng-Islamkan sahabat-sahabat terkemuka. Seperti
Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi
Waqqash, Thallah bin Ubaidilah dan Abu Ubaydah bin Jarrah Radhiyallahu
'anhum. Semuanya termasuk orang-orang yang dijamin masuk syurga.[2]

Charitable (CH)- Kedermawanan Abu Bakar

Beliau adalah saudagar yang kaya raya. Dengan hartanya ia bebaskan para
budak. Yaitu Bilal, Amir ibnu Fuhairah, Zunairah, Nahdiyah dan
putrinya, Jariyah binti Mua'amil dan Ummu Ubays.[3]

Abu Bakar RA juga sangat dermawan. Namun hidupnya sangat
sederhana. 'Aisyah berkata, "Abu Bakar menginfakkan 4.000 dirham kepada
Nabi SAW." "Ketika meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan satu
dinar dan tidak pula satu dirhampun. " kata putrinya 'Aisyah RA.[4]

Padahal kita tahu beliau adalah khalifah. Seorang kepala negara yang
memiliki kedudukan tertinggi dalam pemerintahan.

Bahkan menurut riwayat beliau pernah menyumbangan seluruh hartanya
untuk dakwah Islam. Sampai-sampai Rasulullah bertanya, "Lalu apa yang
kau tinggalkan untuk keluargamu?". Abu Bakar menjawab, "Allah dan
Rasul-Nya."[5]

[1]Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ilmu dan Ulama, Pustaka Azzam
(Jakarta:2001), hal. 164.

[2]Ibid Muhammad Sa'id Mursi, hal. 6.

[3]Ibid hal. 6.

[4]Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Baari, Pustaka Azzam (Jakarta:2006),
jilid 18, hal. 397. 1 dirham = 3,5 gram perak.

[5]Khalid Muhammad Khalid hal. 81.

--------------------------------------------------------------------------------

[1]Joko Siswanto, Materi Pelatihan SDM, Manajemen SDM Berbasis
Kompetensi

[2]Joesoef Sou'yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang
(Jakarta:1979), hal. 132.

[3]1 dirham setara dengan 3.5 gram perak.

[4]Joesoef Sou'yb, hal 133.

[5]Khalid Muhammad Khalid, Kehidupan Para Khalifah teladan, Pustaka
Amani (Jakarta:1995), hal. 81

[6]Ibid

[7]Syaikh Muhammad Sa'id Mursi, Tokoh-Tokoh Besar islam Sepanjang
Sejarah, Pustaka Al Kautsar (Jakarta:2007), hal. 6.

[8]Ibid hal. 8.

[9]Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy, Sirah Nabawiyah, Rabbani Press
(Jakarta:1992), Buku Kesatu, hal. 193.

[10]Joko Siswanto, Materi pelatihan Manajemen SDM Berbasis Kompetesi.

[11]Joesoef Sou'yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang
(Jakarta:1979), hal. 26-27. Pidato tersebut dilakukan menjelang sholat
Isya'

[12]Ibid hal. 31.

[13]Ibid hal. 77-84.

[14]Ibid hal. 7.