Semua Orang Pada Dasarnya Sudah Muslim
Setiap orang yang lahir di muka bumi ini pada dasarnya adalah muslim,
sehingga tidak perlu melakukan syahadat ulang. Dalam aqidah Islam, tidak
ada orang yang lahir dalam keadaan kafir. Sebab jauh sebelum bayi itu
lahir, Allah SWT telah me-minta mereka untuk berikrar tentang masalah
tauhid, yaitu mengakui bahwa Allah SWT adalah tuhannya.
Di dalam Al-Quran Al-Kariem, hal ini ditegaskan sehingga tidak ada alasan
untuk mengatakan bahwa bayi lahir itu dalam keadaan kafir.
Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka : "Bukankah Aku ini
Tuhan-mu?" Mereka menjawab: "Betul , kami menjadi saksi". agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini" (QS.Al-A'raf : 172 )
Selain itu, Rasulullah SAW juga telah bersabda bahwa setiap manusia itu
lahir dalam keadaan fitrah. Dan makna fitrah itu adalah suci, lawan dari
kufur dan ingkar kepada Allah SWT. Barulah nanti kedua orang tuanya yang
akan mewarnai anak itu dan menjadikannya beragama selain Islam. Misalnya
menjadi nasrani, yahudi atau majusi.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Setiap anak dilahirkan
dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi,
Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari 1296)
Maka anak-anak yang beragama non Islam itu pada dasarnya adalah anak
korban pemurtadan dari orang tuanya. Sebab pada dasarnya anak itu muslim
sejak dari perut ibunya. Dan lahir dalam keadaan fitrah yang berarti
muslim.
Sedangkan bila orang tuanya muslim, maka tidak ada proses pengkafiran. Dan
karena itu tidak ada kewajiban untuk masuk Islam dengan berikrar
mengucapkan dua kalimat syahadat.
Syahadat Tidak Harus Di Depan Imam
Bila ada orang non muslim yang dibukakan hatinya untuk memeluk agama
Islam, maka dia diharuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Di
dalam makna syahadat terkandung makna ikrar, janji dan sumpah atas apa
yang dikatakan dalam lafaz dua kalimat syahadat itu.
Ikrar atas syahadat maknanya adalah mengumumkan kepada khalayak bahwa
diri-nya kini telah berganti agama dari non muslim menjadi muslim. Ikrar
ini berfungsi untuk merubah pandangan umum sehingga mereka bisa
memperlakukannya sebagai muslim.
Namun dalam kondisi tertentu, pengumuman atas ke-Islaman diri itu tidak
mutlak harus dilakukan. Misalnya seperti yang dahulu dialami oleh
Rasulullah SAW dan para shahabat di masa awal dakwah, banyak diantara
mereka yang merahasiakan ke-Islamannya. Namun syahadat mereka tetap syah
dan mereka resmi dianggap sebagai muslim.
Di hari ini pun bila ada seseorang yang karena pertimbangan tertentu ingin
merahasiakan keislamannya, maka dia sudah syah menjadi muslim dengan
bersyahadat tanpa disaksikan siapapun. Dan sejak itu dia terhitung mulai
menjadi muslim yang punya kewajiban shalat, puasa, zakat dan lain-lain.
Syahadatain itu tidak mensyaratkan harus dilakukan di depan imam, tokoh,
kiai atau ulama. Tanpa adanya kesaksian mereka pun syahadat itu sudah syah
dan dia sudah menjadi muslim dengan sendirinya.
Untuk Menjadi Orang Beriman Tidak Perlu Minta Izin
Untuk menjadi hamba Allah SWT dan beriman kepada Rasulullah SAW, tidak
perlu minta izin kepada makhluq Allah. Sebab beriman itu adalah hak
sekaligus kewajiban seorang makhluq.
Urusan mau beriman kok harus minta izin segala ? Yang terkenal suka bikin
peraturan bagi orang yang mau beriman agar minta izin terlebih dahulu
adalah Fir’aun. Fir’aun akan mempertanyakan mengapa orang-orang jadi
beriman tanpa minta izin dahulu kepadanya. Seolah-olah dia merasa punya
hak untuk meregistrasi orang-orang mau masuk jadi kelompok mu’minin.
Padahal untuk urusan seperti ini, Allah SWT tidak pernah ‘buka cabang atau
outlet’. Juga tidak pernah membuka ‘agen yang menjual tiket’ untuk masuk
Islam.
Fir’aun berkata : ”Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin
kepadamu?, sesungguhnya adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan
di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak
kamu akan mengetahui (QS Al-Araf : 132)
Syahadat Bukan Akad Nikah
Syahadat itu tidaklah harus disaksikan sebagaimana sebuah akad nikah yang
menjadi tidak syah apabila tidak ada saksinya (nikah sirri). Bila seorang
telah meyakini Islam sebagai agamanya dan mengucapkan dua kalimat
syahadat, secara otomatis dia adalah seorang muslim.
Dan di atas pundaknya telah berlaku beban sebagaimana seorang muslim
lainnya. Tidak perlu baginya untuk mencari orang lain atau mengadakan
sebuah seremoni masuk Islam dengan menghadirkan para saksi melihat dia
mengucapkan dua kalimat syahahat.
Jadi bila di tengah hutan belantara yang tidak ada manusianya, seseorang
yang tadinya nasrani, majusi atau yahudi dan bahkan dari kepercayaan dan
religi manapun bisa saja masuk Islam begitu saja.
Kalau dia masuk ke tengah peradaban masyarakat maka cukuplah dia mengaku
sebagai muslim, shalat di masjid dan melakukan semua kewajiban sebagai
muslim. Dia tidak perlu melakukan syahadat ulang di hadapan para saksi.
Tidak perlu menandatangani surat bermaterai untuk menyatakan diri sebagai
muslim.
Bagaimana kalau dia murtad dan keluar dari Islam? Dalam hukum Islam,
seorang muslim yang jelas melakukan perbuatan yang mengantarkannya kepada
kemurtadan harus diperiksa dan dimintai keterangan secara syah oleh
mahkamah syariah (pengadilan). Bila ternyata dia benar-benar secara sadar
menyatakan diri keluar dari Islam, maka dia diminta untuk bertobat dan
kembali ke dalam ajaran Islam. Tapi bila tetap bersikeras untuk keluar
dari Islam, maka hukumannya adalah dibunuh. Untuk masuk Islam seseorang
bisa dengan mudah melakukannya, tapi untuk bisa dianggap keluar dari
Islam, perlu ada 'persaksian' di dalam sebuah mahkamah syariah.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Sumber : www.syariahonline.com
Senin, 24 Desember 2007
Para Penyeru ke Neraka Jahanam
Syarah Hadits
15/11/2007 | 5/Dzulqaidah/1428 H | Hits: 116
Para Penyeru ke Neraka Jahanam
Oleh: Tim dakwatuna.com
Dari Huzhaifah bin Al-Yaman berkata, “Manusia biasa bertanya pada
Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau
tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku.” Saya berkata,
“Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa Jahiliyah dan penuh kejahatan,
kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah
kebaikan ini ada lagi keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya.” “Apakah
setelah keburukan itu ada kebaikan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi
ada polusinya.” “Apa polusinya?” Rasul saw. menjawab, ”Kaum yang
mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan
engkau ingkari.” Saya berkata, ”Apakah setelah kebaikan itu ada
keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi ada para penyeru ke neraka
jahanam; barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka, maka mereka
melamparkannya ke dalam neraka.” Saya berkata, ”Ya Rasulullah, terangkan
ciri mereka pada kami?” Rasul saw. menjawab, ”(Kulit) mereka sama dengan
kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita.” Saya berkata, ”Apa yang
engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasul saw.
bersabda, ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya.” Saya berkata,
”Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul saw. menjawab,
”Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon
sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut.”
(Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menceritakan satu informasi kenabian yang mutlak
kebenarannya. Apalagi hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam
Muslim, dua imam hadits yang disepakati keshahihan haditsnya oleh para
ulama. Dan hadits ini dikeluarkan oleh Huzhaifah bin Yaman ra. seorang
sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat pakar di bidang
fitnah dan masa depan. Pertanyaan yang dikemukakan Huzhaifah terasa
aneh, kalau sahabat lain bertanya tentang kebaikan, justru ia bertanya
tentang keburukan, agar dapat diantisipasi oleh dirinya dan umat Islam.
Huzhaifah paling tahu masalah-masalah rahasia, tidak salah kalau ia
disebut inteljen Rasulullah saw. Umar bin Khattab ra. ketika ingin
mengetahui orang-orang munafik bertanya pada Huzhaifah bin Yaman. Bahkan
Umar sendiri –karena begitu besar rasa takutnya– bertanya apakah ada
sifat kemunafikan pada dirinya, yang kemudian di jawab Huzhaifah, tidak
ada.
Hadits ini menceritakan betapa nanti akan terjadi distorsi pengamalan
umat Islam terhadap ajaran Islam. Sehingga Islam diliputi polusi atau
syubhat yang mengkaburkan kebenaran ajaran Islam. Pada saat itulah
muncul fitnah dan banyak orang-orang yang menyeru ke pintu neraka
Jahanam (Du’at ilaa abwaabi Jahnnam).
Dakwah yang paling gencar yang dilakukan para penyeru ke jahanam adalah
mengajak manusia agar tidak melibatkan Islam dalam kehidupan mereka.
Pada sisi yang lain mereka juga menyeru untuk menghalalkan segala cara
dalam aktivitas kehidupannya. Dari sisi pemikiran yang banyak diseru
oleh para penyeru ke neraka jahanam adalah kesesatan, penyimpangan, dan
syubhat yang dimasukkan atas nama ajaran Islam. Sehingga muncullah
aliran sesat dan gerakan kemurtadan yang mengatasnamakan Islam, dan umat
Islam banyak yang tertipu dengan ajakan mereka.
KARAKTERISTIK PARA PENYERU KE NERAKA JAHANNAM
1. Memiliki Warna Kulit dan Bahasa yang Sama dengan Mayoritas Rakyat.
Para penyeru tersebut ternyata para pemimpin atau tokoh masyarakat atau
tokoh politik atau tokoh agama yang diikuti oleh banyak masa sebagaimana
disebutkan dalam riwayat lain oleh imam Muslim, yaitu: “Pemimpin yang
tidak mengambil hidayah Rasul dan juga tidak mengikuti sunnahnya.”
Ungkapan yang sama juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash:
41-42, “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia)
ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami
ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat
mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).”
Mereka muncul dari kelompok Islam dan memimpin umat Islam. Kulit dan
bahasanya sama dengan mayoritas umat Islam. Merekalah kelompok yang
paling bahaya bagi umat Islam karena mereka menggunakan istilah-istilah
Islam yang dapat menyesatkan umat Islam, mereka juga sangat membahayakan
karena lahir dari kelompok Islam dan memiliki pengikut yang banyak dari
umat Islam.
2. Mengajak Manusia ke Neraka Jahannam
Ungkapan-ungkapan mereka mengandung kekufuran dan kefasikan, dan mereka
menyangka itu benar. Ungkapan kufur itu dibungkus ayat-ayat Al-Qur’an
dan Hadits. Sementara masyarakat awam banyak yang mengikuti pemimpin
tersebut karena kebodohannya. Ungkapannya ibarat sabda, perbuatannya
selalu dianggap benar. Pemimpin tersebut mengajak rakyatnya untuk masuk
ke neraka Jahanam (sadar atau tidak sadar) dengan berbagai macam cara.
Maka mereka adalah pemimpin yang sesat dan menyesatkan.
Adapun cara-cara yang digunakan manusia untuk menyesatkan mereka dan
mengajak ke neraka antara lain:
a. Memimpin rakyatnya ke jalan setan yang mengantarkan ke neraka. “Ia
berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam
neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.” (QS. Hud: 98)
b. Mengunakan sarana media massa. “(ucapan mereka) menyebabkan mereka
memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan
sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui
sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang
mereka pikul itu.” (QS An-Nahl: 25)
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka,
tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir
membencinya.” (QS. As-Shaaf: 8 ).
c. Menggunakan sarana musik dan nyanyian. “Dan di antara manusia (ada)
orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan
(manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah
itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS.
Luqmaan: 6)
d. Mengubah nikmat Allah dengan kekufuran. “Tidakkah kamu perhatikan
orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan
menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu, neraka Jahanam; mereka
masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”
Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia para pemimpin itu menggunakan
berbagai macam cara yang dikuasainya. Seperti menggunakan harta untuk
menipu kaum lemah dan miskin, menggunakan media. Bahkan, kalau tidak mau
tunduk, mereka menyiksanya dan membunuhnya. Begitulah di antara ciri
penyeru ke neraka Jahanam.
3. Mereka Memiliki Hati Setan
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim: ”Hati mereka
adalah hati setan dalam jasad manusia.” Para penyeru ke neraka Jahanam
hati mereka sangat keras melebihi kerasnya batu sehingga tidak merasakan
apa yang dirasakan umatnya. Bahkan untuk mengokohkan kekuasaanya mereka
tidak segan-segan menyakiti, menyiksa, dan membunuh rakyatnya
(pengikutnya) sendiri.
Sesungguhnya hati jika sudah mengeras, maka kehilangan daya
sensitivitasnya. Mereka menganggap sama antara yang baik dengan yang
buruk, tidak merasakan penderitaan rakyatnya. Semuanya serba diremehkan.
Kesakitan masyarakat dianggap biasa, lumrah, dan tidak dianggap repot.
Dan hati setan tentu saja lebih keras dan lebih jahat dari semua hati.
Penderitaan masyarakat dianggap hiburan yang menyenangkan. Kesesatan
masyarakat adalah tujuan mereka sehingga pada saat masyarakat sesat
memudahkan untuk ditundukkan dan patuh kepadanya.
PERBUATAN PARA PENYERU KE NERAKA JAHANAM
1. Mengekor pada Orang lain
Walaupun di mata masyarakat mereka adalah pemimpin tetapi pada dasarnya
mereka mengekor pihak lain. Para penyeru ke neraka jahanam biasanya
adalah antek-antek orang kafir. Allah swt berfirman: Dan bila mereka
berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah
beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka
mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah
berolok-olok.” (QS. Al Baqarah: 14).
2. Menganggap Rendah Kaumnya
Karena mengekor pada yang lain sehingga mereka merasakan dan menganggap
rendah pada diri dan kaumnya. Mereka memaksa kaumnya untuk mengikuti
pola hidup kaum kafir yang menjadi acuan. Karena itu, pemimpin -pemimpin
seperti ini pada hakekatnya pengekor.
3. Menghancurkan Nilai-Nilai Moral
Para penyeru ke neraka Jahanam menginginkan agar masyarakat tidak
komitmen pada ajaran Islam, karena hal itu akan menyulitkan mereka.
Lebih dari itu ketika masyarakat komitmen pada ajaran Islam maka mereka
susah menguasainya sehingga mereka berusaha menjauhkan masyarakat dari
nilai-nilai Islam. Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang kafir
maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka.
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa
yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan
(pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9).
4. Memerangi Dakwah Islam
Ini terjadi jika kekuasaan ada di tangan mereka. Mungkin pada awalnya
mereka tidak secara langsung memerangi dakwah tetapi mempersempit ruang
lingkupnya. Mereka kemudian menuduh orang-orang yang berdakwah dengan
tuduhan yang keji seperti ekstrimis, fundamentalis, provokator, dan
teroris. Hal ini menyebabkan masa menjauhi dakwah dan aktivisnya. Di
sisi lain menumbuhsuburkan dakwah yang tidak membahayakan kekuasaannya
seperti menumbuhsuburkan tasawuf, filsafat, pemikiran sosialis, dan
lain-lain. Lebih jauh lagi mereka berani menyiksa dan membunuh aktivis
dakwah karena mereka sudah memvonisnya sebagai teroris yang membahayakan
negara.
Demikian aktivitas para penyeru ke neraka Jahanam menggiring manusia
untuk disesatkan dengan berbagai macam cara dan sarana sampai pada
akhirnya mereka mengikuti penyeru tersebut untuk masuk bersama-sama ke
neraka Jahanam. Oleh karena itu para dai kebenaran tidak boleh gentar
menghadapi mereka dan terus-menerus mendakwahkan Islam, mengikhlaskan
niat, merapatkan barisan menggalang kekuatan, dan menjelaskan kesalahan
dan kesesatan mereka sehingga masyarakat tahu dan sadar akan kebenaran
ajaran Islam dan sampai ajaran Islam tegak di bumi ini.
Sikap Muslim terhadap mereka
Sikap yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi kelompok
ini dapat dipetakan dalam beberapa tahap:
1. Bersabar
Yang dimaksud bersabar di sini bukan sabar menerima kebatilan mereka,
tetapi bersabar dalam menolak kebatilan mereka, karena diam dalam
kemaksiatan adalah sebuah kemaksiatan. Bersabar ketika sebagian umat
Islam terkena fitnah dan keburukan mereka. Bersabar untuk terus
melakukan persiapan diri untuk menghadapi keburukan mereka
2. Melakukan Reformasi
Umat Islam semuanya harus turut melakukan reformasi. Reformasi dari
sistem yang ada menuju sistem Islam. Reformasi dari akhlak yang penuh
dengan bentuk kemaksiatan seperti kemusyrikan, perzinaan, seks bebas dan
pornografi, korupsi, kezaliman lainnya, menuju akhlak Islam.
3. Komitmen dengan Persatuan Umat Islam
Dalam kondisi yang serba rusak ini, maka umat Islam harus terjaga
keislamannya dan terhindar dari berbagai macam polusi jahiliyah. Umat
Islam harus komitmen kepada persatuan umat Islam, menjauh dari
penyimpangan, dan berjuang untuk menegakkan Islam. Dan itulah kunci
selamat dari fitnah.
4. Berjihad
Dan cara yang terakhir yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman,
sesuai dengan arahan Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu berjihad terus menerus
dengan berbagai macam tingkatan jihad untuk menghancurkan kebatilan dan
kemungkaran sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini, dan
ketundukkan dan ketaatan hanya untuk Allah semata.
Wallahu a’lam bishawwab.
15/11/2007 | 5/Dzulqaidah/1428 H | Hits: 116
Para Penyeru ke Neraka Jahanam
Oleh: Tim dakwatuna.com
Dari Huzhaifah bin Al-Yaman berkata, “Manusia biasa bertanya pada
Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau
tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku.” Saya berkata,
“Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa Jahiliyah dan penuh kejahatan,
kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah
kebaikan ini ada lagi keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya.” “Apakah
setelah keburukan itu ada kebaikan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi
ada polusinya.” “Apa polusinya?” Rasul saw. menjawab, ”Kaum yang
mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan
engkau ingkari.” Saya berkata, ”Apakah setelah kebaikan itu ada
keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi ada para penyeru ke neraka
jahanam; barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka, maka mereka
melamparkannya ke dalam neraka.” Saya berkata, ”Ya Rasulullah, terangkan
ciri mereka pada kami?” Rasul saw. menjawab, ”(Kulit) mereka sama dengan
kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita.” Saya berkata, ”Apa yang
engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasul saw.
bersabda, ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya.” Saya berkata,
”Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul saw. menjawab,
”Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon
sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut.”
(Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menceritakan satu informasi kenabian yang mutlak
kebenarannya. Apalagi hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam
Muslim, dua imam hadits yang disepakati keshahihan haditsnya oleh para
ulama. Dan hadits ini dikeluarkan oleh Huzhaifah bin Yaman ra. seorang
sahabat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat pakar di bidang
fitnah dan masa depan. Pertanyaan yang dikemukakan Huzhaifah terasa
aneh, kalau sahabat lain bertanya tentang kebaikan, justru ia bertanya
tentang keburukan, agar dapat diantisipasi oleh dirinya dan umat Islam.
Huzhaifah paling tahu masalah-masalah rahasia, tidak salah kalau ia
disebut inteljen Rasulullah saw. Umar bin Khattab ra. ketika ingin
mengetahui orang-orang munafik bertanya pada Huzhaifah bin Yaman. Bahkan
Umar sendiri –karena begitu besar rasa takutnya– bertanya apakah ada
sifat kemunafikan pada dirinya, yang kemudian di jawab Huzhaifah, tidak
ada.
Hadits ini menceritakan betapa nanti akan terjadi distorsi pengamalan
umat Islam terhadap ajaran Islam. Sehingga Islam diliputi polusi atau
syubhat yang mengkaburkan kebenaran ajaran Islam. Pada saat itulah
muncul fitnah dan banyak orang-orang yang menyeru ke pintu neraka
Jahanam (Du’at ilaa abwaabi Jahnnam).
Dakwah yang paling gencar yang dilakukan para penyeru ke jahanam adalah
mengajak manusia agar tidak melibatkan Islam dalam kehidupan mereka.
Pada sisi yang lain mereka juga menyeru untuk menghalalkan segala cara
dalam aktivitas kehidupannya. Dari sisi pemikiran yang banyak diseru
oleh para penyeru ke neraka jahanam adalah kesesatan, penyimpangan, dan
syubhat yang dimasukkan atas nama ajaran Islam. Sehingga muncullah
aliran sesat dan gerakan kemurtadan yang mengatasnamakan Islam, dan umat
Islam banyak yang tertipu dengan ajakan mereka.
KARAKTERISTIK PARA PENYERU KE NERAKA JAHANNAM
1. Memiliki Warna Kulit dan Bahasa yang Sama dengan Mayoritas Rakyat.
Para penyeru tersebut ternyata para pemimpin atau tokoh masyarakat atau
tokoh politik atau tokoh agama yang diikuti oleh banyak masa sebagaimana
disebutkan dalam riwayat lain oleh imam Muslim, yaitu: “Pemimpin yang
tidak mengambil hidayah Rasul dan juga tidak mengikuti sunnahnya.”
Ungkapan yang sama juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash:
41-42, “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia)
ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami
ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat
mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).”
Mereka muncul dari kelompok Islam dan memimpin umat Islam. Kulit dan
bahasanya sama dengan mayoritas umat Islam. Merekalah kelompok yang
paling bahaya bagi umat Islam karena mereka menggunakan istilah-istilah
Islam yang dapat menyesatkan umat Islam, mereka juga sangat membahayakan
karena lahir dari kelompok Islam dan memiliki pengikut yang banyak dari
umat Islam.
2. Mengajak Manusia ke Neraka Jahannam
Ungkapan-ungkapan mereka mengandung kekufuran dan kefasikan, dan mereka
menyangka itu benar. Ungkapan kufur itu dibungkus ayat-ayat Al-Qur’an
dan Hadits. Sementara masyarakat awam banyak yang mengikuti pemimpin
tersebut karena kebodohannya. Ungkapannya ibarat sabda, perbuatannya
selalu dianggap benar. Pemimpin tersebut mengajak rakyatnya untuk masuk
ke neraka Jahanam (sadar atau tidak sadar) dengan berbagai macam cara.
Maka mereka adalah pemimpin yang sesat dan menyesatkan.
Adapun cara-cara yang digunakan manusia untuk menyesatkan mereka dan
mengajak ke neraka antara lain:
a. Memimpin rakyatnya ke jalan setan yang mengantarkan ke neraka. “Ia
berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam
neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.” (QS. Hud: 98)
b. Mengunakan sarana media massa. “(ucapan mereka) menyebabkan mereka
memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan
sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui
sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang
mereka pikul itu.” (QS An-Nahl: 25)
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka,
tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir
membencinya.” (QS. As-Shaaf: 8 ).
c. Menggunakan sarana musik dan nyanyian. “Dan di antara manusia (ada)
orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan
(manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah
itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS.
Luqmaan: 6)
d. Mengubah nikmat Allah dengan kekufuran. “Tidakkah kamu perhatikan
orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan
menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu, neraka Jahanam; mereka
masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”
Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia para pemimpin itu menggunakan
berbagai macam cara yang dikuasainya. Seperti menggunakan harta untuk
menipu kaum lemah dan miskin, menggunakan media. Bahkan, kalau tidak mau
tunduk, mereka menyiksanya dan membunuhnya. Begitulah di antara ciri
penyeru ke neraka Jahanam.
3. Mereka Memiliki Hati Setan
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim: ”Hati mereka
adalah hati setan dalam jasad manusia.” Para penyeru ke neraka Jahanam
hati mereka sangat keras melebihi kerasnya batu sehingga tidak merasakan
apa yang dirasakan umatnya. Bahkan untuk mengokohkan kekuasaanya mereka
tidak segan-segan menyakiti, menyiksa, dan membunuh rakyatnya
(pengikutnya) sendiri.
Sesungguhnya hati jika sudah mengeras, maka kehilangan daya
sensitivitasnya. Mereka menganggap sama antara yang baik dengan yang
buruk, tidak merasakan penderitaan rakyatnya. Semuanya serba diremehkan.
Kesakitan masyarakat dianggap biasa, lumrah, dan tidak dianggap repot.
Dan hati setan tentu saja lebih keras dan lebih jahat dari semua hati.
Penderitaan masyarakat dianggap hiburan yang menyenangkan. Kesesatan
masyarakat adalah tujuan mereka sehingga pada saat masyarakat sesat
memudahkan untuk ditundukkan dan patuh kepadanya.
PERBUATAN PARA PENYERU KE NERAKA JAHANAM
1. Mengekor pada Orang lain
Walaupun di mata masyarakat mereka adalah pemimpin tetapi pada dasarnya
mereka mengekor pihak lain. Para penyeru ke neraka jahanam biasanya
adalah antek-antek orang kafir. Allah swt berfirman: Dan bila mereka
berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah
beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka
mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah
berolok-olok.” (QS. Al Baqarah: 14).
2. Menganggap Rendah Kaumnya
Karena mengekor pada yang lain sehingga mereka merasakan dan menganggap
rendah pada diri dan kaumnya. Mereka memaksa kaumnya untuk mengikuti
pola hidup kaum kafir yang menjadi acuan. Karena itu, pemimpin -pemimpin
seperti ini pada hakekatnya pengekor.
3. Menghancurkan Nilai-Nilai Moral
Para penyeru ke neraka Jahanam menginginkan agar masyarakat tidak
komitmen pada ajaran Islam, karena hal itu akan menyulitkan mereka.
Lebih dari itu ketika masyarakat komitmen pada ajaran Islam maka mereka
susah menguasainya sehingga mereka berusaha menjauhkan masyarakat dari
nilai-nilai Islam. Allah swt. berfirman: “Dan orang-orang yang kafir
maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka.
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa
yang diturunkan Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan
(pahala-pahala) amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 8-9).
4. Memerangi Dakwah Islam
Ini terjadi jika kekuasaan ada di tangan mereka. Mungkin pada awalnya
mereka tidak secara langsung memerangi dakwah tetapi mempersempit ruang
lingkupnya. Mereka kemudian menuduh orang-orang yang berdakwah dengan
tuduhan yang keji seperti ekstrimis, fundamentalis, provokator, dan
teroris. Hal ini menyebabkan masa menjauhi dakwah dan aktivisnya. Di
sisi lain menumbuhsuburkan dakwah yang tidak membahayakan kekuasaannya
seperti menumbuhsuburkan tasawuf, filsafat, pemikiran sosialis, dan
lain-lain. Lebih jauh lagi mereka berani menyiksa dan membunuh aktivis
dakwah karena mereka sudah memvonisnya sebagai teroris yang membahayakan
negara.
Demikian aktivitas para penyeru ke neraka Jahanam menggiring manusia
untuk disesatkan dengan berbagai macam cara dan sarana sampai pada
akhirnya mereka mengikuti penyeru tersebut untuk masuk bersama-sama ke
neraka Jahanam. Oleh karena itu para dai kebenaran tidak boleh gentar
menghadapi mereka dan terus-menerus mendakwahkan Islam, mengikhlaskan
niat, merapatkan barisan menggalang kekuatan, dan menjelaskan kesalahan
dan kesesatan mereka sehingga masyarakat tahu dan sadar akan kebenaran
ajaran Islam dan sampai ajaran Islam tegak di bumi ini.
Sikap Muslim terhadap mereka
Sikap yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi kelompok
ini dapat dipetakan dalam beberapa tahap:
1. Bersabar
Yang dimaksud bersabar di sini bukan sabar menerima kebatilan mereka,
tetapi bersabar dalam menolak kebatilan mereka, karena diam dalam
kemaksiatan adalah sebuah kemaksiatan. Bersabar ketika sebagian umat
Islam terkena fitnah dan keburukan mereka. Bersabar untuk terus
melakukan persiapan diri untuk menghadapi keburukan mereka
2. Melakukan Reformasi
Umat Islam semuanya harus turut melakukan reformasi. Reformasi dari
sistem yang ada menuju sistem Islam. Reformasi dari akhlak yang penuh
dengan bentuk kemaksiatan seperti kemusyrikan, perzinaan, seks bebas dan
pornografi, korupsi, kezaliman lainnya, menuju akhlak Islam.
3. Komitmen dengan Persatuan Umat Islam
Dalam kondisi yang serba rusak ini, maka umat Islam harus terjaga
keislamannya dan terhindar dari berbagai macam polusi jahiliyah. Umat
Islam harus komitmen kepada persatuan umat Islam, menjauh dari
penyimpangan, dan berjuang untuk menegakkan Islam. Dan itulah kunci
selamat dari fitnah.
4. Berjihad
Dan cara yang terakhir yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman,
sesuai dengan arahan Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu berjihad terus menerus
dengan berbagai macam tingkatan jihad untuk menghancurkan kebatilan dan
kemungkaran sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini, dan
ketundukkan dan ketaatan hanya untuk Allah semata.
Wallahu a’lam bishawwab.
Sehatnya Qalbu, Lurusnya Amal
Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan
qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan
kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan kepada apa yang
dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada
apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya.
Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari
segala perkara yang haram dan syubhat.
Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa
yang diinginkan hawa nafsunya dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala
benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan
menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan
kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda:
€ ¢â’ ’¼Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik,
seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan
rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.€ ¢â’ ’½ (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52,
dan Muslim no. 4070)
Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya
amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai
kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
€ ¢â’ ’¼Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.€ ¢â’ ’½ (Al-Isra`: 19)
Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih,
setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar
dari penyakit-penyakit yang merusaknya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: € ¢â’ ’¼Tidak sempurna keselamatan
qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik
yang menentang tauhid, bid€ ¢â’ ’¹ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang
menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu
yang menyelisihi ikhlas.€ ¢â’ ’½ (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)
Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan
akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang
mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.
€ ¢â’ ’¼Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat
akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas
kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan
lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat
tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah
tempat tinggalnya.€ ¢â’ ’½ (An-Nazi€ ¢â’ ’¹at: 34-41)
Wallahu a€ ¢â’ ’¹lam bish-shawab
Kebagusan amalan anggota badan seorang hamba tergantung pada kebagusan
qalbunya. Apabila qalbunya salim (sehat), tidak ada di dalamnya melainkan
kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan kepada apa yang
dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala, takut kepada-Nya, takut terjatuh pada
apa yang dibenci oleh-Nya, akan baguslah seluruh amalan anggota badannya.
Akan tumbuh pula pada dirinya perasaan untuk menghindarkan diri dari
segala perkara yang haram dan syubhat.
Namun apabila qalbunya rusak, dikuasai oleh hawa nafsunya, mencari apa
yang diinginkan hawa nafsunya dalam perkara yang Allah Subhanahu wa Ta'ala
benci, akan rusaklah seluruh amalan anggota badannya. Selain itu, akan
menyeret pula kepada segala bentuk kemaksiatan dan syubhat, sesuai dengan
kadar penguasaan hawa nafsu terhadap qalbunya. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda:
€ ¢â’ ’¼Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik,
seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan
rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.€ ¢â’ ’½ (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52,
dan Muslim no. 4070)
Apabila seorang hamba memiliki qalbu yang salim akan muncul darinya
amalan-amalan yang shalih dan kesungguhan dalam beramal guna mencapai
kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
€ ¢â’ ’¼Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.€ ¢â’ ’½ (Al-Isra`: 19)
Dengan demikian, untuk mendorong dan menumbuhkan amalan-amalan shalih,
setiap hamba wajib menjaga qalbunya agar tetap salim (sehat) dan terhindar
dari penyakit-penyakit yang merusaknya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata: € ¢â’ ’¼Tidak sempurna keselamatan
qalbu seorang hamba melainkan setelah selamat dari lima perkara: syirik
yang menentang tauhid, bid€ ¢â’ ’¹ah yang menyelisihi As-Sunnah, syahwat yang
menyelisihi perintah, kelalaian yang menyelisihi dzikir, dan hawa nafsu
yang menyelisihi ikhlas.€ ¢â’ ’½ (Ad-Da`u wad Dawa`, hal. 138)
Hamba yang memiliki qalbun salim akan selalu mengutamakan kehidupan
akhirat daripada kehidupan dunia, yang mana Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah mempersiapkan tempatnya di surga. Berbeda dengan orang yang
mengutamakan kehidupan dunia yang akan membawanya kepada neraka Al-Jahim.
€ ¢â’ ’¼Maka apabila hari kiamat telah datang. Pada hari ketika manusia teringat
akan apa yang telah dikerjakannya. Dan diperlihatkan neraka dengan jelas
kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas, dan
lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat
tinggalnya. Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah
tempat tinggalnya.€ ¢â’ ’½ (An-Nazi€ ¢â’ ’¹at: 34-41)
Wallahu a€ ¢â’ ’¹lam bish-shawab
Langganan:
Postingan (Atom)